Diancam Dibunuh dan Dianiaya,Korban Harapkan Hakim Memvonis Terdakwa Seadil-Adilnya

Kampar,President Pos

Erianto (45) atau yang sering dipanggil Eri tersangka pelaku kasus penganiayaan terhadap korban Nelson Hutahaean (47) warga Perumahan Graha Kualu Payung Seikaki ,Desa Kualu,Kecamatan Tambang menduduki kursi “pesakitan “ pada Selasa sore (12/2/2019) di ruang sidang Pengadilan Negeri Bangkinang Kabupaten Kampar-Riau .

Dari keterangan beberapa saksi yang didengar langsung oleh para Hakim yang terdiri dari dua Hakim Anggota dan satu Hakim Ketua tidak satupun keterangan saksi yang dibantah oleh Eri selaku terdakwa,saat Hakim Ketua menanyakan apakah pihak terdakwa pernah berupaya melakukan perdamaian kepada korban, justru Nelson mengaku tidak pernah pihak terdakwa datang untuk mengakui kesalahan-nya, bahkan korban mengaku setelah kejadian penganiayaan yang dialaminya justru ada upaya beberapa warga yang coba menghasut warga untuk mengusir korban dan keluarga.

Namun uniknya , saat Hakim Ketua menanyakan apakah terdakwa bersedia minta maaf kepada korban sebelum proses sidang dilanjutkan ketahap berikutnya,justru Nelson Hutahean memeluk terdakwa saat menghampiri korban untuk meminta maaf,dengan raut wajah sedih sembari menetikkan air mata Eri mengulurkan tangan kepada Nelson Hutahaean ,begitu juga tampak korban menjabat tangan terdakwa dengan sedikit menahan air mata,selain meminta maaf kepada korban juga terdakwa menyalami para saksi yang memberatkan terdakwa di ruang sidang tersebut.

Dari keterangan saksi korban,Kejadian bermula pada 7 Desember 2018 siang Eri mendatangi Saksi yang saat itu berada di rumah korban dan terdakwa menyuruh saksi agar menyampaikan kepada istri korban agar segera membayar hutang kepada saudara terdakwa lalu disarankan saksi agar disampaikan terdakwa langsung pada korban yang saat itu korban sedang mencuci mobil di sekitar terdakwa dan saksi.
Mendapat tanggapan dari saksi kemudian terdakwa tidak mendatangi korban tetapi dengan nada emosi meminta saksi agar menyampaikan langsung pada istri korban,”Sampaikan saja sama ibu monyet itu agar utangnya dibayar!”sebut korban menirukan ucapan terdakwa.

Selanjutnya setelah istri korban pulang saksi menyampaikan pada istri korban tentang pesan dan perkataan terdakwa tersebut,tidak terima istri korban disebut monyet lalu korban berusaha untuk mengklarifikasi informasi saksi tersebut,saat korban ketemu dengan terdakwa Nelson sudah berusaha mengundang Eri (terdakwa) datang ke rumah korban agar hal tersebut dibicarakan namun Eri menolak dengan alasan masih sibuk.

Malam harinya saat saksi dan korban duduk di rumah korban seorang pemuda menyampaikan pesan pada saksi bahwa Eri menyuruh saksi agar menemuinya di salah satu warung yang letaknya tidak jauh dari rumah korban tetapi saksi enggan menemui Eri,mengetahui posisi Eri ,korban menemui Eri untuk mengklarifikasi informasi yang disampaikan terdakwa.

Saat itu korban menanyakan kenapa menghina istri korban dan benarkah istri korban ada utang dengan Eri?karena tidak dapat mempertanggung-jawabkan perkataan terdakwa dan merasa terpojok Eri meninju wajah korban dengan pelaku lalu ditanggapi korban dengan senyum dan berkata ;“Coba pukul sekali lagi kalau berani kau pukul lagi kuselesaikan!” mendengar ucapan korban terdakwa semakin emosi sambil berucap “kubunuh kau” lalu terdakwa berlari menuju ke arah rumah terdakwa sementara korban pulang ke rumahya.

Selang hanya beberapa menit kemudian terdakwa mendatangi rumah korban sambil membawa parang lalu menyuruh korban keluar saat korban keluar Eri langsung menyerang korban dengan menggunakan parang,melihat bahaya mengancam nyawanya korban berusaha menghindari seluruh serangan yang dilancarkan Eri secara membabi buta, Saat tenaga Eri sudah mulai melemah korban berusaha melumpuhkan serangan Eri dan saat korban merangkul Eri saat itulah parang terdakwa mengenai bagian kepala korban sehingga menggucurkan darah.

Masih keterangan saksi korban,Saat Eri menyerang korban dengan pakai parang tidak satupun warga yang berani menghalangi Eri ,tetapi saat Eri berhasil dilumpuhkan korban saat itulah salah seorang warga memisah, namun sayangnya bukannya Eri beritikat baik untuk mau dipisah tetapi kesempatan itu dipergunakan terdakwa lagi dengan mengambil batu pavin block dan melemparkan batu ke bagian dada korban.

Dari keterangan saksi korban dan para saksi lainnya dan juga saat Jaksa Penuntut menunjukkan alat bukti serta 3 barang bukti berupa satu bilah parang ,satu senter dan satu batu pavin block di pengadilan ,terdakwa tidak dapat membantah hal tersebut di hadapan para Hakim.
Persidangan kasus penganiayaan ini ditunda untuk sementara waktu dan akan dilanjutkan pada 19 Febuari 2019 guna mendengar keterangan saksi lainnya.

Nelson Hutahean sebagai korban penganiayaan mengharapkan pengadilan agar menjatuhkan vonis hukuman yang seadil-adilnya sesuai hukum yang berlaku kepada pelaku penganiayaan yang telah mengancam dan menganiaya dirinya pada tahun lalu,hal ini diucapkan-nya seusai mengikuti persidangan di Pengadilan Negeri Bangkinang,Kabupaten Kampar-Riau.

“Saya sebagai korban terharu dan beri apresiasi kepada Hakim yang menjalankan tugas kehakiman di Pengadilan Negeri Bangkinang dimana ada saatnya terdakwa diberi Hakim pilihan apakah bersedia minta maaf atau tidak dan saya selaku orang yang beragama iklas memaafkan terdakwa ,tetapi agar memberikan pelajaran dan efek jera bagi masyarakat,saya sangat berharap kepada Pengadilan agar memvonis terdakwa dengan seadil-adilnya sesuai hukum yang berlaku di Indonesia,”katanya singkat. (tim/red)

banner 468x60
banner 300x250

No Responses

Comments are closed.